ninamath

The greatest WordPress.com site in all the land!

Telaah Kurikulum

Leave a comment

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Peranan dan Tujuan kurikulum

Beberapa peranan penting kurikulum dalam pencapaian tujuan pendidikan, antara lain:

  1. Peranan Konservatif

Menekankan bahwa kurikulum itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk mentrasmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda.

  1. Peranan Kreatif

Menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang.

  1. Peranan Kritis dan Evaluatif

Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Menekankan kurikulum harus turut aktif berpatisipasi dalam kontrol atau filter sosial.

 

Tujuan penyusunan kurikulum

 

Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk :

  • Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
  • Belajar untuk memahami dan menghayati,
  • Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
  • Belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan
  • Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Landasan Kurikulum di Indonesia

1. UUD 1945

Pembukaan alinea 4 Pasal 31 ayat :

  1. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
  2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
  3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu Sisdiknas yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan UU.
  4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
  5. Pemerintah memajukan IPTEK dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

2. UU no 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS

Pasal 35   :  Standar Nasional Pendidikan .

Pasal 36   :  Pengembangan kurikulum mengacu pada SNP.

Pasal 37   :  Isi kurikulum pendidikan dasar ,menengah dan tinggi.

Pasal 42   :  Kualifikasi minimum dan sertifikasi pendidik.

Pasal 43   :  Promosi dan penghargaan pendidik dan tenaga kependidikan.

Pasal 59   : Evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur penyelenggara sertifikasi jenjang dan jenis       pendidik.

Pasal 60   :  Akreditasi

Pasal 61   :  Sertifikasi

3. PP no 19 TAHUN 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Pasal   5    : Standar isi.

Pasal   6    : Kerangka dasar dan Struktur Kurikulum.

Pasal   8    : Kedalaman muatan kurikulum.

Pasal   10  : Beban belajar.

Pasal   11  : Beban belajar sistem SKS.

Pasal   12  : Beban belajar efektif ditentukan PERMEN berdasarkan

usulan BSNP.

Pasal   18  : Kalender Pendidikan.

Pasal   25,26,27 : Standar Kompetensi Lulusan.

4. PERMENDIKNAS RI No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah

Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Standar Isi sesuai dengan PP No 19 Tahun 2005 mencakup :

  1. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunankurikulum pada tingkat satuan pendidikan.
  2. Beban belajar bagi peserta didik pada satuan DIKDASMEN
  3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi.
  4. Kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang DIKDASMEN.

Kurikulum yang Pernah Berlaku di Indonesia

Terdapat 9 kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia

  1. Kurikulum 1947, diberi nama Rentjana Pembelajaran 1947

Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu masih dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri utama kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.

  1. Kurikulum 1952, disebut juga Rentjana Pembelajaran Terurai 1952

Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap pembelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

  1. Kurikulum 1964, disebut juga Rentjana Pendidikan 1964

Yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah pembelajarannya yang dipusatkan pada program pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan emosional, kerigelan dan jasmani.

  1. Kurikulum 1968, yang merupakan pembaharuan kurikulum 1964

Ditandai dengan perubahan struktur pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

  1. Kurikulum 1975

Menekankan pada tujuan agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Metode materi dirinci pada Prosedur Pengembangan Sistem Instruksi (PPSI)

  1. Kurikulum 1984

Kurikulum ini mengusung proses skill approach yang mengutamakan pendekatan proses. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut dengan model Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

  1. Kurikulum 1994

Ditandai dengan sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia.

  1. Kurikulum 2004, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.

  1. Kurikulum 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .

Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya.

Kurikulum berbasis kompetensi memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran. Cakupan standar kompetensi standar isi (content standard) dan standar penampilan (performance standard). Kompetensi dasar, merupakan jabaran dari standar kompetensi, adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat diperagakan oleh siswa pada masing-masing standar kompetensi. Materi pokok atau materi pembelajaran, yaitu pokok suatu bahan kajian yang dapat berupa bidang ajar, isi, proses, keterampilam, serta konteks keilmuan suatu mata pelajaran. Sedangkan indikator pencapaian dimaksudkan adalah kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik yang dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menilai ketuntasan belajar.

KBK berorientasi pada pendekatan konstruktivisme, hal ini terlihat dari ciri-ciri KBK, yaitu:

  1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal
  2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar yang lain yang memenuhi unsur edukasi
  5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum 1994 dan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum 1994

Kelebihan dalam pemberlakuan kurikulum 1994, antara lain :

  1. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran).
  2. Siswa memiliki keterempilan di bidang non akademis melalui muatan lokal.

Namun sayangnya, protes yang terus bermunculan untuk segera merevisi kurikulum 1994 membuat pemerintah mengambil tindakan untuk memperbaharui kurikulum 1994 menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) pada tahun 2004.

Kekurangan  kurikulum 1994, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut :

  1. Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
  2. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
  3. Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran, guru sebagai pusat pembelajaran. Target pembelajaran pada penyampaian materi.
  4. Evaluasi atau sistem penilaian menekankan pada kemampuan kognitif. Keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan atas dasar perolehan nilai yang dapat diperbandingkan dengan nilai siswa lain. Ujian hanya menggunakan teknik paper and pencil test.

 

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Kelebihan kurikulum berbasis kompetensi  (KBK) antara lain:

  1. Mengembangkan kompetensi-kompetensi siswa pada setiap aspek mata pelajaran dan bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu sendiri.
  2. Selain bertujuan memberikan bekal akademik bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, juga agar siswa mampu memecahkan masalah secara wajar dan mejalani hidup secara bermartabat.
  3. Mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented).
    Siswa dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indra seoptimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses belajar. Kegiatan tersebut dijabarkan melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
  4. Guru diberi kewenangan untuk menyusun silabus yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah/daerah masing-masing.
  5. Bentuk pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari suatu mata pelajaran memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan peserta didik.
  6. Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan penilaian yang terfokus pada konten.

Kekurangan kurikulum berbasis kompetensi  (KBK)

Kekurangan pada penerapan KBK di setiap jenjang pendidikan disebabkan beberapa permasalahan antara lain:

  1. Paradigma guru dalam pembelajaran KBK masih seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya yang lebih pada teacher oriented.
  2. Kualitas guru, hal ini didasarkan pada statistik, 60% guru SD, 40% guru SLTP, 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Kualitas SDM kita adalah urutan 109 dari 179 negara berdasarkan Human Development Index.
  3. Sarana dan pra sarana pendukung pembelajaran yang belum merata di setiap sekolah, sehingga KBK tidak bisa diimplementasikan secara komprehensif.
  4. Kebijakan pemerintah yang setengah hati, karena KBK dilaksanakan dengan uji coba di beberapa sekolah mulai tahun pelajaran 2001/2002 tetapi tidak ada payung hukum tentang pelaksanaan tersebut.

Kekurangan kurikulum berbasis kompetensi  dari sisi isi kurikulum, antara lain:

  1. Dalam kurikulum dan hasil belajar indikator sudah disusun, padahal indikator sebaiknya disusun oleh guru, karena guru yang paling mengetahui tentang kondisi peserta didik dan lingkungan
  2. Konsep KBK sering mengalami perubahan termasuk pada urutan standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga menyulitkan guru untuk merancang pembelajaran secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s